Jumat, 23 Agustus 2019

Komponen-Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas

RESUME 5
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Komponen-Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas


Di Susun Oleh :
LINA DELVIZA
1620228
Dosen Pembimbing:
YESSI RIFMASARI, M.Pd
Kelas: 7.6 PGSD


PROGRAM  STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2019




PEMBAHASAN
Komponen-Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas

A. Pengertian
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelola sendiri akar katanya adalah “kelolah” di tambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “ manajemen” . manajemen adalah kata yang di adopsi dari bahasa inggris, yaitu management, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. 
Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977) diklasifikasikan kedalam tiga pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (autorityapproach), pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan modifikasi tingkah laku. Berikut dijelaskan pengertian masing-masing pendekartan tersebut.
1. Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter ( authority approach) pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat (weber).
2. Kedua, pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas `adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan yang mereka inginkan. Dan fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktifitas di dalam kelas.
3. Ketiga, pendekatan modifikasi tingkah laku. Pendekatan ini didasarkan pada pengelolaan kelas merupakan proses perubahan tingkah laku, jadi pengelolaan kelas merupakan upaya untuk mengembangkan dan memfasilitasi perubahan prilku yang bersifat positif dari siswa dan dan berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau memperbaiki prilaku negative yang dilakukan oleh siswa.
Menurut Syaiful Bahri Djamara dalam sebuah bukunya yang berjudul “Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif” bahwa, manajemen kelas adalah suatu upaya memperdayagunakan potensi kelas    yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Suharismi Arikunto, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan arti dari manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dapat dicapai suatu kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.

B. Komponen- komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif ) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Keterampilan suka tanggap ini dapat dilakukan dengan cara; memandangan secara seksama, gerak mendekati, memberi pertanyaaan , dan reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan. Yang termasuk kedalam ketakacuan. Yang termasuk kedalam keterampilan memberi perhatian adalah visual dan verbal. Tetapi memberi tanda, penghentian jawab, pengarahan dan petunjuk yang jelas, penghentian, penguatan, kelancaran, dan kecepatan, merupakan sub bagian dari keterampilan pemusatan perhatian kelompok. Masalah modifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah, adalah tiga buah strategi yang termasuk kedalam ruang lingkup keterampilan yang berhubungan dengan  pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Semua kegiatan yang disebutkan diatas akan diperjelas dan diperdalam via uraian berikut ini.
1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prevetif). Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:

a.  Sikap tanggap

Seorang guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik  walaupun guru sedang menulis di papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
1) Memandang secara seksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa persahabatan.
2) Gerak  mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan dan hukuman.
3) Memberi pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah dihindari hal-hal yang menunjukan dominasi guru, misalnya dengan komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”. “saya atau kalian yang keluar?” atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran saya, silakan keluar!”.
4) Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.                                                        
b. Membagi perhatian

Kelas diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan  dari guru. perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara:
1) Visual
Guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik secara individual.
2) Verbal
Guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik yang lain.

c. Pemusataan perhatian kelompok

Munculnya kelompok informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan. Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan mempertahankan perhatian anak didik dan memberitahukan (dapat dengan tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau subkelompok yang terdiri dari tiga sampai empat orang. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat guru lakukan, yaitu:
1) Memberi tanda
Dalam memulai proses belajar mengajar guru memusatkan pada perhatian kelompok terhadap suatu tugas dengan memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan atau topik dengan memilih anak didik secara random untuk meresponnya.
2) Pertanggungan jawab
Guru meminta pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan keterlibatannya dalam suatu kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggung jawab terhadapkegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalny, dengan meminta kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.
3) Pengarahan dan petunjuk yang jelas
Guru harus sering kali memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri anak didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.
4) Penghentian
Tidak semua gangguan tingkah laku dapat dicegah atau berhasil dihindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktiv dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau menghentikan gangguan anak didik itu.
Cara lain untuk menghentikan gangguan, adalah guru dan anak didik membuat persetujuan mengenai prosedur dan aturan yang merupakan bagian dari pelaksanaan rutin proses belajar mengajar, sehingga menghentikan gangguan berubah menjadi hanya memperingatkan. Cara mengomeli kurang dibenarkan dalam pendidikan, sebab tidak mendidik.
5) Penguatan
Untuk menanggulangi anak didik yang mengganggu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang dipilih sesuai dengan masalahnya. Penggunaan penguatan untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau yang tidak melakukan tugas.
6) Kelancaran (smoothnees)
Kelancaran atau kemajuan anak didikdalam belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Hal ini perlu guru dukung dan jangan diganggu dengan hal-hal yang bisa membuyarkan konsentrasi anak didik. Ada sejumlah kesalahan yang harus guru hindari, yaitu: campur tangan yang berlebihan (teacher Instruction), kelenyapan (Fade away), penyimpangan (Digression), dan ketidaktepatan berhenti dan memulai kegiatan.
7) Kecepatan (Pacing)
Kecepatan disini diartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan penyajian bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau kemajuan tugas. Ada dua kesalahan kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan, yaitu: Bertele-tele (overdwelling) dan mengulangi penjelasan yang tidak perlu.

d. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas

Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan diatas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah memaparkan setiap pelaksanaan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.

e. Menegur

Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari hal yang memberikan efek  penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya .

f. Memberi penguatan

Penguatan adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dan dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau dapat ditularkan kesiswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersifat nonmaterial juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan .

2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan kondisi belajara yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang –ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas. Strategi itu adalah:

a. Memodifikasi tingkah laku

Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang penilaian yang kurang baik. Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.

b. Pengelolaan kelompok

Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan , gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus dikelola dengan baik oleh guru. Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:

  • Memperlancar tugas-tugas: Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
  • Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok: Memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang timbul.
c. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi oleh dampak pengiring yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat dapat melakukan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus datang mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.











DAFTAR PUSTAKA

Bahri Djamara, Syaiful dan Zain, Aswan. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rineka Cipta 2006). Cet. Ke-6
Rukmana, Ade dan Suryana, Asep. Pengelolaan Kelas. (Bandung: Upi Press 2006). Cet. Ke-1
http://blog-indonesia.com/blog-archive-7215.html
http://jawaposting.blogspot.com/2010/10/makalah-komponen-komponen.html
http://sekolah-Dasar.blogspot.com/2009/01/komponen-komponen-keterampilan.html
http://www.scribd.com/44984563/makalah-pengelolaan-kelas
http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/10/31/keterampilan-mengelola-kelas

14 komentar: